SportPoin, Jakarta: Praktik seksual yang
menempatkan salah satu pada risiko HIV, penyakit menular seksual, dan
kehamilan yang tidak direncanakan disebut sebagai 'seks berisiko'.
Kenapa banyak wanita yang nekat melakukannya?
Menurut sebuah studi terbaru, tindak kekerasan yang terjadi pada seorang wanita membuatnya rentan terhadap seks berisiko.
Pernahkah Anda bertanya apa yang mendorong beberapa wanita untuk menikmati seks berisiko?
Alasannya dikaitkan dengan kebebasan seksual wanita itu sendiri. Beberapa orang mungkin menuduh wanita tersebut tidak bermoral.
Menurut sebuah studi terbaru, tindak kekerasan yang terjadi pada seorang wanita membuatnya rentan terhadap seks berisiko.
Pernahkah Anda bertanya apa yang mendorong beberapa wanita untuk menikmati seks berisiko?
Alasannya dikaitkan dengan kebebasan seksual wanita itu sendiri. Beberapa orang mungkin menuduh wanita tersebut tidak bermoral.
Sebuah studi yang menyoroti subjek ini mengatakan bahwa wanita yang sewaktu kecil sering menyaksikan kejahatan dan sering mengalami kekerasan di masa kecilnya, ketika dewasanya lebih rentan terhadap seks berisiko.
Selain itu, wanita yang telah mengalami pelecahan cenderung menikmati seks tanpa kondom dan sering menggunakan alkohol atau obat-obatan sebelum berhubungan seks.
Praktik seksual yang menempatkan salah satu pada risiko HIV, penyakit menular seksual, dan kehamilan yang tidak direncanakan adalah yang disebut sebagai 'seks berisiko'.
Penelitian ini dilakukan terutama di kalangan wanita Afrika-Amerika yang mengalami kerugian sosial-ekonomi.
1. Umum di kalangan usia muda maupun tua
"Dalam kurun waktu 20 tahun, saya telah menemukan banyak sekali wanita yang menikmati perilaku seksual berisiko. Dan jika diambil dari cerita masa lalunya, saya menemukan rasa emosional. Mengalami tindak kekerasan, fisik, pelecehan seksual di masa lalu," kata Psikiater dan psikoterapis, Dr Anjali Chhabria , seperti dikutip Times of India, Kamis (17/1/2013)
Penelitian ini juga berlaku dalam konteks India, di mana seksualitas tidak mungkin dibicarakan secara terbuka, namun tidak berarti hal itu tidak akan terjadi.
Ini dapat terjadi di mana-mana, di semua lapisan masyarakat dan sering terjadi pada remaja serta orang tua berusia 50 tahun ke atas.
2. Penyebab
Jika ada yang bertanya alasan apa yang mendorong perilaku berisiko ini, Dr Chhabria menjelaskan bahwa orang-orang yang mengalami kekerasan mungkin akan peka terhadap kekerasan, sehingga meningkatkan tolerasninya.
Seseorang mungkin telah terbiasa melakukan seks secara teratur dengan satu satu pasangan yang membosankan sehingga tidak sadar orang tersebut dapat mencari gairah baru yang terdiri dari seks berisiko bersama dengan pengambilan perilaku berisiko.
Selain itu, orang tersebut mungkin telah menekan pengalaman awalnya yang mengakibatkan amarah di tingkat bawah sadar yang ditekan dan akhirnya menemukan ekspresi sebagai perilaku berisiko.
Melakukan pembalasan terhadap lawan jenis dengan memikat dan menariknya dan terlibat dalam seks berisiko yang biasa terlihat.
3. Penanggulangan
Mencegah kekerasan dalam rumah tangga dan intoleransi terhadap kekerasan yang terjadi pada wanita merupakan langkah yang paling penting dalam mencegah masalah seperti itu.
Mendidik remaja tentang masalah yang terkait dengan praktik seksual berisiko tinggi seperti PMS dan kehamilan yang tidak dingin, dan mempromosikan seks aman yang harus dilakukan.
Perilaku impulsif pada wanita tersebut dapat dikontrol dengan memberikan bantuan secara teknik seperti Terapi Perilaku Dialektis yang menggabungkan terapi perilaku dengan prinsip-prinsip meditasi.
Selain itu Terapi Perilaku Kognitif dapat membantu seseorang menangani masalah kekerasan untuk melihat dunia lebih baik lagi.

No comments:
Post a Comment
KOMENTAR ANDA SANGAT KAMI HARAPKAN UNTUK PENGEMBANGAN BLOG INI, TERIMA KASIH