Reyoet: Mitos dalam bidang seksual seolah
tidak pernah ada habisnya datang silih berganti. Tak heran bila banyak
orang kerap salah jalan atau tersesat.
Sebut saja mitos mengenai
darah monyet yang dipercayai di suatu komunitas bisa mencegah dan
menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Ada juga yang mempercayai bahwa minum
obat antibiotik sebelum melakukan hubungan seksual dengan pelacur dapat
mencegah atau menahan penularan penyakit menular seksual.
Bahkan
di Jepara, ada sebuah tempat yang dikenal dengan sebutan Pertapaan Ratu
Kalinyamat dan di Yogyakarta, Pantai Parangkusumo dipercayai sebagai
tempat yang dapat membuat seseorang tampak lebih muda kalau melakukan
ritual tertentu. Parahnya, ritual itu adalah melakukan hubungan seks
dengan anak-anak atau dengan gadis yang masih perawan.
Tapi
sebenarnya apa sih mitos itu? Prof.Koentjoro, MBSc, PhD, psikolog dari
Universitas Gajah Mada dalam simposium kedokteran seksual di Surabaya
beberapa waktu lalu seperti ditulis, Rabu (2/9/2013) menyebutkan mitos
merupakan ide atau cerita yang dipercayai banyak orang, meski faktanya
tidak benar.
Psikolog yang meneliti perihal pelacuran sejak tahun
80-an ini menyebutkan juga bahwa mitos juga bisa berupa cerita kuno
yang yang dibuat untuk menjelaskan kejadian-kejadian alami atau
peristiwa historis. Jadi, jelas bahwa mitos merupakan kepercayaan yang
diyakini masyarakat meski tidak benar faktanya.
Selanjutnya,
Koentjoro dalam penjelasannya mengungkapkan bahwa pelacuran yang ada
sekarang ini memiliki kaitan erat dengan tigginya kejadian cerai di Jawa
Barat. Tahun 1950, mungkin merupakan tahun dimana angka rata-rata cerai
menjadi angka tertinggi bahkan di seluruh dunia.
Anehnya, justru
para janda ini semakin bangga dengan status janda ini. Semakin kerap
menjadi janda (kawin cerai berulang kali) berarti semakin dicari atau
dibutuhkan pria. "Bahkan tindakan ini justru jadi ajang kompetisi,"
jelas Koentjoro.
Di sisi lain, kita tahu bahwa seks di sebagian
besar komunitas masyarakat Indonesia masih dianggap tabu. Namun justru
nyatanya fakta tidak menunjukkan demikian. Paradoks atau kontradiksi
terjadi di mana-mana. Sekolah Tinggi Psikologi Yogyakarta membuktikan,
berdasar riset yang pernah mereka lakukan ternyata setidaknya di
Yogyakarta terdapat 25 toko seks (sex shop).
Tidak bisa disangkal
bahwa toko semacam akan menunjang perluasan prostitusi dan relasi tidak
sehat yang pada akhirnya akan menghancurkan kehidupan rumah tangga.

No comments:
Post a Comment
KOMENTAR ANDA SANGAT KAMI HARAPKAN UNTUK PENGEMBANGAN BLOG INI, TERIMA KASIH