Reyoet: Malware kini menjadi komoditi yang diperjualbelikan. Transaksi jual beli malware di pasar gelap (underground) terendus makin marak. Harga jualnya pun bersahabat, dengan potensi keuntungan tinggi.
Tidak hanya toolkit malware, dalam keterangan tertulisnya, Senin (18/2/2013), perusahaan keamanan Eset mengungkapkan bahwa akses ke komputer yang positif terinfeksi botnet juga laku dijual bahkan makin marak. Ini menandakan kejahatan internet bermotif finansial mengalami peningkatan.
Tidak hanya toolkit malware, dalam keterangan tertulisnya, Senin (18/2/2013), perusahaan keamanan Eset mengungkapkan bahwa akses ke komputer yang positif terinfeksi botnet juga laku dijual bahkan makin marak. Ini menandakan kejahatan internet bermotif finansial mengalami peningkatan.
Peminat bisa membeli akses tersebut dengan harga tertentu. Harga yang dikenakan juga beragam. Wilayah komputer host di Amerika Serikat dan Eropa memiliki harga yang berbeda, jumlah biasanya meliputi ribuan komputer host yang diperdagangkan.
Menurut penelitian Dancho Danchev, seorang peneliti keamanan data, yang ditulis pada blog Webroot, harga untuk 1.000 komputer host yang terinfeksi berlokasi di Amerika Serikat adalah USD 200. Sedangkan untuk komputer host yang terinfeksi dan berlokasi di Eropa dengan jumlah yang sama harganya bervariasi antara USD 60 sampai USD 120, dan harga untuk yang berlokasi di beberapa negara (campuran) dengan jumlah sama adalah USD 20.
Diversifikasi harga tersebut ditentukan dari dua hal. Pertama, tingkat
kemampuan atau daya beli masing-masing wilayah. Atribut tersebut
didasarkan pada asumsi bahwa user Amerika Serikat memiliki daya beli
yang tinggi termasuk daya beli online jika dibandingkan dengan user di
negara-negara Uni Eropa maupun negara lain di dunia.
Kedua, nilai tinggi yang dimiliki komputer host. Bagi pelaku, jika user komputer memiliki aktifitas transaksi dan daya beli tinggi, maka semakin tinggi pula nilai yang dimiliki komputer tersebut.
Kesimpulan tersebut diperoleh melalui serangkaian tindak kejahatan yang pernah terjadi, yang secara alamiah akan membentuk harga menjadi semakin tinggi untuk komputer host yang berlokasi di Amerika Serikat. Sehingga di sebagian besar 'daftar harga' lokasi komputer host di Amerika Serikat selalu menempati posisi harga tertinggi.
Selebihnya seperti layaknya bisnis, ada saja pelaku yang memberikan harga lebih murah untuk memenangkan persaingan dengan penjual lain, atau untuk mendapatkan laba lebih banyak dari diskriminasi harga tersebut.
Motif Pembelian
Apa motif dibalik pembelian infeksi malware tersebut? Jawabannya tergantung si konsumen. Pelaku kejahatan yang masih baru, biasanya mencari cara gampang untuk melakukan tindak kejahatan dan penipuan dengan motivasi keuntungan finansial.
Yudhi Kukuh, Technical Consultant PT. Prosperita-Eset Indonesia menambahkan bahwa pembeli bisa jadi juga adalah pelaku kejahatan yang merasa IP host yang terinfeksi botnet miliknya sudah tidak bersih lagi.
Bisa juga tidak menghasilkan lagi, maka akan membeli akses yang dipartisi -- yang juga dijual di pasar underground -- dan menggunakannya untuk menyebarkan varian malware hasil pengembangannya sendiri.
"Cara ini memang tidak biasa yaitu melakukan interkoneksi dengan malware lain, dan selalu ada kemungkinan masing-masing pelaku tidak mengetahui varian malwarenya disebarkan dengan menggunakan layanan lain. Hal itu disebabkan karena kurangnya sumber daya untuk melakukan pengawasan aktifitas malware pasca pembelian," pungkasnya.
Kedua, nilai tinggi yang dimiliki komputer host. Bagi pelaku, jika user komputer memiliki aktifitas transaksi dan daya beli tinggi, maka semakin tinggi pula nilai yang dimiliki komputer tersebut.
Kesimpulan tersebut diperoleh melalui serangkaian tindak kejahatan yang pernah terjadi, yang secara alamiah akan membentuk harga menjadi semakin tinggi untuk komputer host yang berlokasi di Amerika Serikat. Sehingga di sebagian besar 'daftar harga' lokasi komputer host di Amerika Serikat selalu menempati posisi harga tertinggi.
Selebihnya seperti layaknya bisnis, ada saja pelaku yang memberikan harga lebih murah untuk memenangkan persaingan dengan penjual lain, atau untuk mendapatkan laba lebih banyak dari diskriminasi harga tersebut.
Motif Pembelian
Apa motif dibalik pembelian infeksi malware tersebut? Jawabannya tergantung si konsumen. Pelaku kejahatan yang masih baru, biasanya mencari cara gampang untuk melakukan tindak kejahatan dan penipuan dengan motivasi keuntungan finansial.
Yudhi Kukuh, Technical Consultant PT. Prosperita-Eset Indonesia menambahkan bahwa pembeli bisa jadi juga adalah pelaku kejahatan yang merasa IP host yang terinfeksi botnet miliknya sudah tidak bersih lagi.
Bisa juga tidak menghasilkan lagi, maka akan membeli akses yang dipartisi -- yang juga dijual di pasar underground -- dan menggunakannya untuk menyebarkan varian malware hasil pengembangannya sendiri.
"Cara ini memang tidak biasa yaitu melakukan interkoneksi dengan malware lain, dan selalu ada kemungkinan masing-masing pelaku tidak mengetahui varian malwarenya disebarkan dengan menggunakan layanan lain. Hal itu disebabkan karena kurangnya sumber daya untuk melakukan pengawasan aktifitas malware pasca pembelian," pungkasnya.


No comments:
Post a Comment
KOMENTAR ANDA SANGAT KAMI HARAPKAN UNTUK PENGEMBANGAN BLOG INI, TERIMA KASIH