Reyoet: Para peneliti dari Concordia University
menemukan bahwa tingkat hormon stres seseorang yang optimis tetap lebih
stabil dalam menghadapi saat-saat stres dibandingkan dengan yang
bersifat pesimis.
"Pada hari-hari mereka mengalami stres lebih tinggi daripada
rata-rata, saat itulah kita melihat bahwa respon stres orang pesimis
jauh meningkat, dan mengalami kesulitan membawa tingkat kortisol
kembali," kata peneliti studi yang merupakan Ph.D. kandidat dalam
psikologi klinis di universitas, Joelle Jobin seperti dikutip
Hufftingtonpost, Selasa (30/7/2013).
Penelitian kecil yang
dilakukan selama enam tahun ini melibatkan 135 orang usia lebih dari 60
tahun dan dicatat dalam jurnal health pshycology.
Selama 12 hari
yang berbeda sepanjang periode tersebut, peneliti mengumpulkan sampel
air liur lima kali sehari untuk mengukur tingkat hormon stres kortisol
mereka.
Para peneliti juga meminta peserta berapa kal untuk merasa
stres atau kewalahan dalam sehari. Kemudian, peneliti membandingkan
tingkat kortisol peserta pada hari-hari individu dengan tingkat kortisol
Rata-rata mereka alami selama bertahun-tahun, untuk mengukur seberapa
banyak tingkat fluktuasi.
Ditemukan bahwa tingkat kortisol
berkurang saat seseorang bersifat optimis begitu sebaliknya. Kortisol
adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal.
Hormon ini terlibat dalam respon stres dan meningkatkan tekanan darah dan kadar gula darah.

No comments:
Post a Comment
KOMENTAR ANDA SANGAT KAMI HARAPKAN UNTUK PENGEMBANGAN BLOG INI, TERIMA KASIH