Reyoet, Jakarta: Wanita yang melakukan seks bebas
yang berisiko kerap dikenal sebagai wanita yang bermoral buruk dan
berpendidikan rendah. Tapi tidak demikan dalam penelitian yang dilakukan
Lisa Antao dalam Times of India, Rabu (23/10).
Penelitian tersebut dilakukan terutama di kalangan perempuan Afrika-Amerika yang sebagian besar mengalami masalah sosial-ekonomi.
Penelitian tersebut dilakukan terutama di kalangan perempuan Afrika-Amerika yang sebagian besar mengalami masalah sosial-ekonomi.
Lisa menyatakan, kekerasan yang dialami pada wanita sewaktu kecil
merupakan pemicu utama kenapa wanita tersebut rela, bahkan senang
berhubungan seks berisiko. Jadi, wanita yang melakukan seks bebas belum
tentu seorang wanita "nakal". Bisa juga wanita yang bermartabat dan
berpendidikan tinggi.
Menurut Lisa, seks bebas di sini diartikan sebagai rela berhubungan tubuh tanpa pelindung, menggunakan kondom, ngobat sebelum
berhubungan seks, bahkan nekat melakukan seks anal. Wanita yang mau
melakukan hubungan seks sukarela tidak memperdulikan dampaknya, seperti
hamil tanpa rencana dan terjangkit HIV/AIDS.
Sejalan dengan Lisa, seorang psikiater bernama Dr Anjali Chhabria
menyatakan, sepanjang 20 tahun menangani pasien, ia menemukan bahwa
kekerasan dan pelecehan seksual yang pernah menimpa seorang wanita di
masa lalu membuatnya rela untuk melakukan seks berisiko tersebut.
Lebih lanjut lagi, Chhabria menjelaskan, wanita yang pernah mengalami
kekerasan akan lebih toleran untuk melakukan kekerasan. Saat bosan
melakukan hubungan seks yang itu-itu saja, wanita tersebut akan meminta
pasangannya mencoba suasana baru.
Untuk itu, diperlukan adanya pencegahan terhadap kekerasan rumah tangga
kepada anak perempuan. Selain itu, diperlukan juga adanya pendidikan
seks terhadap remaja yang berkaitan dengan risiko, seperti kehamilan di
luar nikah dan HIV/AIDS.

No comments:
Post a Comment
KOMENTAR ANDA SANGAT KAMI HARAPKAN UNTUK PENGEMBANGAN BLOG INI, TERIMA KASIH