Reyoet: Seksualitas pada dasarnya mewakili
hubungan yang kompleks antara berbagai faktor seperti fisiologis,
psikologis dan faktor budaya.
Di zaman lampau, di kebanyakan
budaya, perilaku seksual yang diterima berdasar pada premis yang
menyebutkan, pria butuh dan berhak atas seks sementara kesenangan atas
seksual pada wanita harus dinomorduakan setelah kebutuhan si pria
terpenuhi kebutuhan seksualnya dan kegiatan reproduksi dilaksanakan.
Konsekuensinya, seksualitas pada wanita menjadi sangat terkait dengan
yang namanya kegiatan reproduksi semata.
Demikian setidaknya yang
pernah disampaikan Dr. Nalini Muhdi, Sp.KJ (K) dalam sebuah simposium
seperti ditulis, Selasa (8/10/2013). Menurut Nalini, nilai-nilai yang
hidup di abad sembilan belas ini jelas mendesakkan banyak tabu dan
larangan terutama bagi wanita.
Wanita disebutnya kerap menjadi
alat, untuk mengamankan kelangsungan hidup manusia lewat prokreasi dan
memenuhi kesenangan pria. Karena itu, hanya demi kesehatan seksual
prialah semua kegiatan seks itu berjalan.
Namun di zaman yang
sudah modern ini, pandangan ini sudah sangat ketinggalan alias kuno.
Wanita menyadari bahwa dirinya setara dengan pria, termasuk dalam
kehidupan rumah tangga dan perannya sebagai orangtua.
Hak-hak
sosial, tanggung jawab, profesi, serta keuangannya sudah otonom disadari
menjadi miliknya. Pada saat yang sama, para wanita menyadari adanya
sudut pandang baru mengenai fungsi seksual mereka.
"Mereka
menyadari bahwa seksualitas tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan
prokreasi atau pembentukan manusia baru, melainkan merupakan kegiatan
rekreasi untuk mendapatkan kepuasan" ujar psikiater di RSU Dr. Soetomo
sekaligus dosen di FK Unair Surabaya.

No comments:
Post a Comment
KOMENTAR ANDA SANGAT KAMI HARAPKAN UNTUK PENGEMBANGAN BLOG INI, TERIMA KASIH