Reyoet: Menurut androlog Prof DR. Dr. Wimpie
Pangkahila beberapa waktu lalu yang ditulis Jumat (18/10/2013), dalam
perkawinan, hubungan seksual menjadi aktivitas yang secara teratur
dilakukan. Maka setiap pasangan suami istri seyogyanya telah memahami
perilaku seksual yang diinginkan pasangannya, agar hubungan berlangsung
harmonis.
Di dalamnya termasuk waktu yang diinginkan untuk berhubungan seksual,
frekuensi hubungan, rangsangan pendahuluan yang diinginkan
masing-masing, hingga posisi hubungan seksual. Dengan memahami segala
sesuatu yang berkaitan dengan aktivitas hubungan seksual, maka pasangan
suami istri harus dapat melakukan penyesuaian dengan terbatasnya atau
kacaunya waktu untuk bersama-sama akibat kesibukan kerja.
Kesibukan
kerja yang menjauhkan pasangan suami istri dapat mempengaruhi frekuensi
hubungan seksual, membatasi dan mengubah waktu yang dikehendaki untuk
melakukan hubungan seksual. Padahal, banyak pasangan memerlukan waktu
cukup lama untuk melakukan rangsangan pendahuluan, sampai mencapai
orgasme. Kalau waktu yang tersedia terbatas, hubungan seksual mungkin
berlangsung tidak harmonis, menyebabkan hubungan seksual berlangsung
tergesa-gesa, dan bisa mengurangi kepuasan seksual yang ingin
dinikmati.
Di samping menimbulkan hambatan seperti itu, kesibukan
kerja yang berlebihan mengakibatkan kelelahan, fisik maupun psikis.
Keduanya saling berhubungan dan dapat menghambat fungsi seksual. Maka
jangan heran kalau orang yang terlampau sibuk bekerja bisa pula
mengalami gangguan fungsi seksual.
Beberapa gangguan fungsi
seksual yang mungkin terjadi akibat kelelahan fisik dan psikis pada pria
berupa disfungsi ereksi, ejakulasi dini, dan hilangnya dorongan
seksual. Pada perempuan, kelelahan fisik dan psikis dapat mengakibatkan
hilangnya dorongan seksual, dispareunia (rasa sakit saat hubungan
seksual), dan hambatan orgasme.

No comments:
Post a Comment
KOMENTAR ANDA SANGAT KAMI HARAPKAN UNTUK PENGEMBANGAN BLOG INI, TERIMA KASIH