Wednesday, December 11, 2013

Gay Radar, Kemampuan Mendeteksi Orientasi Seksual Seseorang

Reyoet, Jakarta: Semakin meluasnya jenis orientasi seksual mendorong perlunya memiliki "gaydar" (gay radar). Gaydar adalah istilah yang dipakai luas untuk kemampuan menilai orientasi seksual orang lain dengan cepat. Bahkan beberapa orang memang benar-benar memiliki kemampuan unik ini.

Menurut penelitian yang dilakukan Joshua Tabak, mahasiswa pascasarjana psikologi di University of Washington, Seattle, kemampuan ini memiliki manfaat yang cukup signifikan.



Tabak meminta 129 mahasiswa untuk mengidentifikasi orientasi sosial 96 pria dan wanita muda lewat fotonya. Hasilnya, 65 persen partisipan dapat mengidentifikasi lesbian/wanita normal dan 57 persen partisipan dapat mengidentifikasi gay/pria normal dari ke-96 foto tersebut.

Wajah-wajah yang ada di foto itu tidak memakai kacamata atau perhiasan. Kesemuanya juga tidak memiliki bekas luka, janggut, kumis ataupun bekas tindikan.

Namun ketika wajah-wajah tersebut ditampilkan dalam kondisi terbalik, akurasi identifikasi yang dilakukan partisipan menurun menjadi 61 persen untuk lesbian/wanita normal dan 53 persen untuk gay/pria normal. Namun, tingkat akurasi itu masih lebih tinggi daripada identifikasi yang dilakukan secara kebetulan saja, kata peneliti.

Temuan yang dipublikasikan di jurnal PLoS One ini menunjukkan bahwa banyak orang yang secara sadar membuat pembedaan terhadap homoseksual dan orang normal.

"Hal ini mungkin mirip dengan bagaimana kita tidak harus berpikir panjang untuk mengatakan orang itu pria atau wanita, berkulit hitam atau putih. Informasi semacam ini pun akan terus dihadapkan pada kita dalam kehidupan sehari-hari," tambahnya seperti dirilis dari Health24, Rabu (11/12/2013).

Tabak mengaku temuan ini menantang teori bahwa jika orang-orang merahasiakan orientasi seksualnya maka diskriminasi terhadap homoseksual, lesbian dan biseksual takkan pernah ada. Menurutnya, argumen ini justru dibuat oleh orang-orang yang tak setuju dengan kebijakan anti-diskriminasi bagi kelompok tersebut.

Meski begitu, Tabak tak menemukan alasan mengapa beberapa orang memiliki "radar gay" yang lebih baik dari lainnya. Tabak hanya menduga bahwa "orang-orang dari generasi yang lebih tua atau kultur yang berbeda bisa saja tumbuh dewasa tanpa pernah berinteraksi dengan gay" sehingga kurang akurat dalam mengidentifikasi gay atau orang normal.

Followers