Friday, December 6, 2013

Molekul Ajaib Dalam Susu dan Bir yang Bikin Panjang Umur

Reyoet, Jakarta: Banyak penelitian menjelaskan mengenai khasiat bir dan susu bagi kesehatan, tapi tidak menjelaskan secara rinci zat apa di dalamnya yang bermanfaat bagi kesehatan. Baru-baru ini, ilmuwan telah menemukan 'molekul ajaib' yang tersembunyi di dalam bir dan susu yang diketahui dapat mencegah obesitas.



Sebuah penelitian menemukan bahwa molekul yang disebut nicotinamide riboside (NR) ini secara tak langsung dapat mempengaruhi aktivitas metabolisme sel dan berperan penting untuk mencegah kenaikan berat badan dan diabetes. Selain itu, molekul ini juga dapat meningkatkan kinerja otot dan bermanfaat bagi aspek kesehatan lainnya.

"NR tampaknya berperan untuk mencegah obesitas. Tikus yang makan makanan kaya lemak NR lebih sedikit mengalami pertambahan berat badan daripada tikus yang mengonsumsi makanan yang sama tanpa suplemen NR. Selain itu, tidak ada tikus yang diberi NR memiliki indikasi terkena diabetes," kata peneliti, Carles Canto dari Sekolah Politeknik di Lausanne seperti dilansir Medical Daily, Jumat (6/12/2013).

Temuan yang dipublikasikan di jurnal Cell Metabolism ini menunjukkan bahwa tikus yang diberi suplemen NR selama 10 minggu memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dan mengalami peningkatan energi dibandingkan dengan yang tidak diberi suplemen.

Tikus yang diberi suplemen juga berada dalam kondisi lebih fit saat diperiksa serat ototnya. Dan yang lebih hebat lagi, pemberian suplemen ini tidak menyebabkan efek samping.

"Sel-sel tubuh menggunakan molekul ini hanya saat membutuhkannya, dan sisanya dibuang tanpa berubah bentuk menjadi zat apapun yang sifatnya merusak," kata Canto.

Para peneliti percaya bahwa peningkatan molekul NR dapat meningkatkan fungsi mitokondria, pemasuk sumber energi bagi sel. Mitokondria juga diyakini berperan dalam proses penuaan.

Akhirnya, peneliti berhipotesis bahwa merangsang mitokondria menggunakan molekul NR dapat membuat panjang umur serta meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Sayangnya, molekul ini sangat kecil dan sulit untuk direproduksi.

"Saat ini, kita bahkan tidak bisa mengukur konsentrasinya dalam susu. Jadi tidak mungkin kita bisa tahu berapa banyak yang harus diminum untuk dapat mengamati dampaknya," kata Canto.

Meskipun demikian, para peneliti berharap dapat menguji manfaat molekul ini untuk orang banyak dalam uji klinis di masa depan.

Followers