Reyoet: Ketika pria bertambah usia, rambut tampak
semakin tipis. Sejumlah pria malah ada yang mengalami penipisan rambut
sebelum waktunya. Ilmuwan sudah menemukan penyebab kebotakan pria. Dari
penemuan itu bisa diharapkan pengobatan yang bisa menghentikan atau
bahkan mengembalikan rambut yang menipis.
Penyebab kebotakan pria secara biologis sudah ditemukan. Dalam sebuah
penelitian terhadap pria botak dan tikus laboratorium, ilmuwan dari
Amerika Serikat menemukan protein yang memicu kerontokan rambut. Dari
sana, mereka sedang menuju ke arah pengembangan krim yang langsung
mengobati kebotakan. Demikian laporan yang diterbitkan dalam Jurnal Science Translational Medicine seperti ditulis, Sabtu (19/10/2013).
Sebagai
mana diketahui, sebagian besar pria mengalami kebotakan pada usia paruh
baya. Sekitar 80 persen pria mengalami kerontokan rambut sampai usia 70
tahun.
Hormon testosteron berperan penting dalam kebotakan.
Demikian juga faktor genetik. Keduanya menyebabkan folikel rambut
mengerut dan akhirnya menjadi sangat kecil dan tak terlihat oleh mata
telanjang. Dan di kepala tampaklah kebotakan.
Ilmuwan dari
University of Pennsylvania telah menganalisis gen yang bekerja ketika
pria mulai botak. Mereka menemukan kadar protein kunci, yang disebut
prostaglandin D synthase, meningkat dalam sel-sel folikel rambut yang
terletak di kulit kepala yang botak, bukan di daerah yang berambut.
Tikus-tikus
dalam percobaan memiliki kadar protein itu dalam kadar tinggi ketika
sepenuhnya botak. Sementara rambut manusia yang ditransplantasi berhenti
tumbuh ketika diberi protein tersebut.
Rambut Tidur
Prof. George Cotsarelis dari departemen dermatologi yang memimpin penelitian itu mengatakan, ”Pada dasarnya kami membuktikan bahwa protein prostaglandin meningkat di kulit kepala yang botak pada pria. Protein itu menghambat pertumbuhan rambut. Jadi kami mengidentifikasi target untuk mengobati kebotakan berpola pada pria.”
Prof. George Cotsarelis dari departemen dermatologi yang memimpin penelitian itu mengatakan, ”Pada dasarnya kami membuktikan bahwa protein prostaglandin meningkat di kulit kepala yang botak pada pria. Protein itu menghambat pertumbuhan rambut. Jadi kami mengidentifikasi target untuk mengobati kebotakan berpola pada pria.”
Penghambatan
pertumbuhan rambut terpicu ketika protein terikat pada sebuah reseptor
dalam sel-sel folikel rambut, kata Prof. Cotsarelis. Beberapa obat yang
menargetkan protein ini sudah diidentifikasi. Beberapa di antaranya
sudah berada dalam tahap ujiklinis.
Mereka mengatakan, ada potensi
untuk mengembangkan obat yang bisa dioleskan ke kulit kepala untuk
mencegah kebotakan. Kemungkinan juga rambut bisa tumbuh kembali di
kepala yang sudah telanjur botak.
Penelitian lain juga membuktikan
ada kemungkinan kepala yang telanjur botak bisa memiliki rambut
kembali. Percobaan pada tikus, sebagaimana dilaporkan jurnal Cell,
mengatakan sel punca rambut dikontrol oleh lemak. Menginjeksi sejenis
sel lemak menstimulasi pertumbuhan rambut tikus. Tim peneliti dari Yale
University yang melakukan penelitian mengatakan, hasil penelitian ini
memungkinkan rambut botak untuk ditumbuhkan kembali.
Menurut
mereka, terdapat peningkatan empat kali lipat jumlah prekursor sel lemak
dalam kulit di sekitar folikel rambut ketika mulai tumbuh. Tikus yang
botak tidak memproduksi sel lemak tersebut.
Rambut secara normal
tumbuh dalam siklus tertentu dan ada siklus dorman, yakni rambut tidur
atau tidak tumbuh. Pada tikus botak, folikel terperangkap dalam fase
dorman siklus kehidupan rambut.
Ilmuwan kemudian menyuntik sel
lemak pada tikus botak yang diambil dari tikus sehat. Dua pekan
kemudian, folikel rambut mulai tumbuh. Menginjeksi faktor pertumbuhan
pada sel kulit tikus botak bisa memulai pertumbuhan 86 persen folikel.
Namun,
belum diketahui proses kimiawi ini juga terjadi pada kepala manusia.
Penelitian sebelumnya pada pria membuktikan bahwa bagian yang botak di
kulit kepala memiliki jumlah sel punca yang sama dengan bagian yang
punya rambut.
“Jika kita bisa membuat sel lemak di kulit bicara
dengan sel punca tidur (dorman) di dasar folikel rambul, kita mungkin
bisa membuat rambut tumbuh kembali,” kata Prof.Valerie Horsley dari Yale
University.

No comments:
Post a Comment
KOMENTAR ANDA SANGAT KAMI HARAPKAN UNTUK PENGEMBANGAN BLOG INI, TERIMA KASIH