Reyoet, New York: Banyak yang percaya
menggunakan deodoran dengan kandungan antiperspiran mampu membunuh
bakteri penyebab bau keringat. Namun, menurut U S Food and Drug
Administration (FDA) deodoran hanya mengurangi bakteri sebesar 20 persen
dan antiperspiran tidak benar-benar menghentingkan keringat berlebih
pada keringat.Dikutip Huffingtonpost, Jumat (18/10/2013), tampaknya tubuh terus beradaptasi dengan antiperspirant untuk mengurangi keringat. Saat tubuh sudah berhasil beradaptasi maka kelenjar keringat pun mampu mengatasi keringat yang berlebih. Menurut para ahli bukan bahan yang ada pada deodoran yang mengurangi keringat namun karena tubuh yang beradaptasi.
Pengguna deodoran sebaiknya mengganti merek deodorannya setiap enam bulan sekali. "Ini ide yang baik untuk mengganti merek deodoran Anda setiap enam bulan untuk mencegah resistensi," kata Asisten Profesor Dermatologi di University of Southern California, dr. Han Lee.
Beberapa merek deodoran mencantumkan untuk pria dan wanita namun hal ini ternyata menurut para ahli hanya strategi pemasaran, tidak berpengaruh pada penggunanya. Setiap deodoran memiliki bahan aktif yang sama baik untuk pria dan wanita, hanya kemasan dan aroma yang berbeda. Hal tersebut menurut laporan Discovery Health, selain itu diketahui juga deodoran hanya mampu mengatasi 10 persen keringat berlebih.
Dilihat dari segi kesehatan zat yang terkandung pada deodoran
memiliki dampak yang mengkhawatirkan bila digunakan pada anak-anak.
Peneliti Kanker Senior di Universitas Reading, Philippa Darbre,
mengatakan bahwa penggunaan produk ini pada anak-anak praremaja dan
remaja harus diperhatikan karena memprihatinkan dampaknya.
Aluminium
dan zirkonium pada deodoran dapat mengganggu hormon dan paparannya
mempengaruhi perkembangan anak sehingga merusak kesehatan dengan cara
yang belum diketahui. Menurutnya tidak semua orang membutuhkan deodoran
untuk mengatasi keringat berlebih.
No comments:
Post a Comment
KOMENTAR ANDA SANGAT KAMI HARAPKAN UNTUK PENGEMBANGAN BLOG INI, TERIMA KASIH