Reyoet: Banyak mitos yang berkembang di
masyarakat tentang kutu rambut. Tidak sedikit orang yang mengaitkan kutu
dengan kebiasaan jorok. Namun ternyata ahli menjelaskan kutu bukanlah
cerminan dari tingkat kebersihan seseorang.
"Kutu dapat
menyebabkan tekanan emosi pada seseorang, banyak yang keliru kutu bukan
tanda seseorang tersebut jorok," ujar Ahli Penyakit Menular Pediatrik di
Loyola University Health System di Illinois, dr. Andrew Bonwit, dikutip
Health, Minggu (27/10/2013).
Bonwit menambahkan
kebersihan dan status sosial ekonomi seseorang tidak ada hubungannya
dengan hama kutu dan tidak dapat menyebar lewat sisir, sikat rambut dan
topi. Penularan kutu terjadi melalui kontak kepala satu menempel dengan
kepala lainnya.
Menurut Bonwit, kutu pada kepala tidak menyebabkan
penyakit yang serius, meskipun begitu rasa gatal juga dapat menyakitkan
dan menjadi penyebab infeksi.
"Kadang-kadang pasien terlalu
gatal kemudian goresan kulit kepala akibat aktivitas menggaruk yang
menyebabkan infeksi kulit ringan dan bahkan menyebabkan beberapa
pembesaran kelenjar getah bening di bagian belakang leher atau di
belakang telinga," ungkapnya.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan
Penyakit di Amerika Serikat menyatakan sebanyak 12 juta laporan terkait
masalah kutu rambut terjadi di setiap tahunnya. Masalah kutu rambut ini
biasanya terjadi pada anak berusia tiga sampai 11 tahun. "Orang tua dan
staf sekolah perlu memperhatikan hal ini, penting untuk diingat bahwa
jika terjadi masalah harus segera diobati," tuturnya.
Pengobatan
yang paling umum adalah pembersih rambut khusus kutu atau lotion khusus
untuk kulit kepala. "Siklus hidup kutu terjadi sekitar tujuh hari dari
peletakan telur sampai menetas, sehingga pengobatan insektisida kedua
dianjurkan, setelah aplikasi pertama," saran Bonwit.

No comments:
Post a Comment
KOMENTAR ANDA SANGAT KAMI HARAPKAN UNTUK PENGEMBANGAN BLOG INI, TERIMA KASIH