Reyoet: Sebuah penelitian baru mengungkapkan
bahwa gangguan tidur, terutama mimpi buruk merupakan tanda yang kerap
ditemui dapat membuat orang mudah bunuh diri.
“Sejauh pengamatan kami, ini adalah laporan pertama yang menghubungan
antara mimpi buruk dan bunuh diri pada orang yang pernah mencoba untuk
bunuh diri,” ujar Nisse Sjstrm dan tim peneliti dari Sahlgrenska
University Hospital, Gteborg, Swedia.
Para peneliti menambahkan,
bagaimanapun juga, meski penemuan ini mengaitkan antara mimpi buruk dan
bunuh diri, pada dasarnya hal ini tidak menyiratkan hubungan sebab
akibat antara keduanya.
Sjstrm dan para penelitinya melakukan
penelitian pada 165 orang dewasa yang berusia antara 18 hingga 68 tahun
yang berada di Sahlgrenska University Hospital setelah orang-orang ini
mencoba bunuh diri.
Para pasien ditanya mengenai kebiasaan tidur
apakah mereka mempunyai gangguan tidur atau tidak, dan seberapa sering
mereka mengalami mimpi buruk.
Mereka juga dievaluasi intensitasnya
dalam melakukan percobaan bunuh diri dengan menggunakan skala depresi
bersamaan dengan Skala Penilaian Bunuh Diri yang menentukan dan menilai
gejala pemikiran dan perilaku untuk bunuh diri.
Hampir semua
pasien (89 persen) dilaporkan mempunyai setidaknya satu jenis gangguan
tidur, dengan masalah yang paling umum susah tidur (79 persen). Demikian
menurut para peneliti seperti dilaporkan dalam Jurnal SLEEP, Sabtu (12/10/2013).
Sebagai
tambahan, 69 persen pasien mengatakan bahwa mereka memiliki masalah
tidur dan sekitar 60 persen mengatakan mudah terbangun saat tidur. Dua
dari tiga pasien dilaporkan mengalami mimpi buruk.
“Sering
mengalami mimpi buruk merupakan satu-satunya variabel tidur yang
dikaitkan dengan kecenderungan untuk bunuh diri,” demikian menurut para
peneliti.
Setelah memperhitungkan faktor-faktor lain yang dapat
memengaruhi tingkat bunuh diri, termasuk diagnosa mental, para peneliti
menemukan bahwa pasien yang sering mengalami mimpi buruk mempunyai
kecenderungan untuk bunuh diri hampir empat kali lipat jika dibandingkan
dengan pasien yang tidak mengalami mimpi buruk.
“Hubungan antara
gangguan tidur, mimpi buruk, dan bunuh diri terdengar masuk akal,”
demikian menurut Dr. Clete Kushida, seorang ahli mengenai tidur yang
tidak terlibat dalam penelitian ini.
“Namun ini penelitian pertama yang menunjukkan bahwa hal ini benar-benar terjadi,” demikian tambahnya.
Kushida, yang merupakan salah satu dari dewan direksi dari American Academy of Sleep Medicine's menyarankan kepada mereka yang mengalami perasaan depresi atau ingin bunuh diri, atau memiliki ganguan tidur jenis apapun, harus berkonsultasi kepada tenaga medis mengenai hal tersebut.
“Kebanyakan
orang dewasa mengalami mimpi buruk, namun dalam kondisi tertentu.
Biasanya ini berkurang dalam frekuensi dan intensitasnya ketika manusia
tumbuh semakin dewasa,” jelas Kushida yang juga direksi dari Stanford
University Center for Human Sleep Research di California.
Sering
mengalami mimpi buruk dan gangguan tidur bisa jadi merupakan gejala dari
pola tidur yang salah seperti apnea. Kushida menekankan pada
pentingnya mendapatkan pertolongan pada setiap gangguan tidur. Ia
menambahkan jika dokter tidak mau menerima keluhan gangguan tidur yang
dialami oleh pasien, maka pasien dapat mencari pertologan dari ahli yang
mempunyai spesialis dalam menangani gangguan tidur.

No comments:
Post a Comment
KOMENTAR ANDA SANGAT KAMI HARAPKAN UNTUK PENGEMBANGAN BLOG INI, TERIMA KASIH