Reyoet, Jakarta: Pembunuh anak balita yang
paling berbahaya di dunia selain diare adalah pneumonia. Di Indonesia
sendiri menurut Prof. Dr. dr. Bambang Supriyatno, Sp.A(K), dari UKK
Respirologi IDAI Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA) FKUI RSCM, dalam
empat menit satu anak balita meninggal karena penyakit ini.
"Penyakit yang banyak dikenal sebaga radang paru-paru ini perlu
dilakukan pencegahan dini sehingga risiko kematian dapat teratasi dengan
baik," tambah dr. Bambang, Minggu (9/11/2013).
Menurut dr Bambang,
cara mendeteksi sejak dini penyakit tersebut dengan menghitung
frekuensi napas anak balita. Untuk anak umur di bawah dua bulan,
frekuensinya sebanyak 60 per menitnya, umur dua sampai 12 bulan 50 per
menit, sedangkan usia satu sampai lima tahun 40 permenit.
"Jika napas cepat dan denyut melebihi frekuensi normal segera bawa ke dokter, jangan sampai ada gejala chest in-drawing atau tarikan dinding dada ke dalam itu sudah tingkat keparahannya tinggi," kata dr. Bambang menjelaskan.
Hal
senada disampaikan Prof. dr. Cissy B. Kartasasmita, Msc., Sp.A.,PhD
dari UKK Respirologi IDAI, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK-UNPAD/Rumah
Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
"Gejala klinis penyakit ini
diantaranya napas cepat. Untuk mengetahui lebih dahulu, coba periksa
frekuensi denyut nadinya dalam tiap menit," ujar dr. Cissy.

No comments:
Post a Comment
KOMENTAR ANDA SANGAT KAMI HARAPKAN UNTUK PENGEMBANGAN BLOG INI, TERIMA KASIH